Minggu, 02 September 2012

Eksotisme Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Kepulauan Sangihe dilimpahi berbagai keindahan alam yang penuh pesona. Menyelam di kedalaman laut yang hangat dapat menjadi pengalaman tak terlupakan. Tak hanya itu, keelokan air terjun, hamparan pantai berpasir putih nan asri, serta rumah peninggalan kolonial Belanda menjadi saksi bahwa teras depan kawasan Indonesia bagian utara ini memang menggoda dan mengundang decak kagum sejak dulu kala.

Eksotisme Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
Eksotisme Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
 
Anda belum disebut sebagai diver sejati kalau tidak pernah menyelam di sekitar Pulau Mahangetang. Apa yang menarik dari pulau mini yang secara administrasi berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, tersebut? Tak jauh dari Pulau Mahangetang, tepatnya pada jarak 300 meter arah tenggara, terdapat gunung api bawah laut yang diberi nama Gunung Mahangetang. Ini bukan sembarang gunung.

Puncak gunung yang terendam air laut itu senantiasa mengeluarkan gelembung-gelembung udara, pertanda gunung api tersebut memang masih aktif. Ajaibnya lagi, kendati Anda menyelam pada kedalaman puluhan meter, kehangatan senantiasa menyelimuti tubuh. Ini terjadi lantaran gelembung-gelembung tadi mampu menghangatkan air laut pada radius tertentu. Berhati-hatilah dan tetaplah waspada untuk menjaga jarak agar tetap aman. Jangan terlalu dekat karena dapat membuat kulit tersengat suhu panas.


Menjadi Daya Tarik
Keunikan inilah yang menjadi daya tarik bukan saja bagi wisatawan mancanegara, tetapi juga para ilmuwan untuk menguak misteri Gunung Mahangetang. Sebab, sampai sejauh ini, minimnya pengetahuan manusia tidak sebanding dengan begitu luasnya misteri yang masih menyelimutinya.

Memang tidak mudah mengunjungi kawasan tersebut. Bukan apaapa, akses menuju lokasi tersebut, selain jauh, tidak mudah dijangkau meskipun dari Tahuna, ibu kota Kepulauan Sangihe. Namun, perjalanan mahal tersebut akan terbayar lunas begitu Anda menjumpai gunung yang berada pada kedalaman 8 meter pada saat laut pasang dan 4 meter pada saar laut surut.



Pantai Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
Pantai Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Adrenalin serasa terpacu saat menyelam melintasi lekukan-lekukan gunung api bawah laut tersebut. Setelah berkelana di bawah permukaan laut, coba nikmati air terjun Kadadima yang berjarak 50 km atau dapat ditempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Tahuna. Di situ, ada tiga jenis air terjun yang unik.

Air Terjun Nahapese, misalnya, tampak seperti terjepit karena memang air terjunnya sempit. Ada juga Air Terjun Elong yang seolah-olah memiliki warna air yang biru. Lalu, Air Terjun Matei tampak tegak lurus ibarat air sungai jatuh dari langit. Aneka vegetasi khas tropis berselimutkan udara sejuk dan segar bakal mengiringi perjalanan Anda ketika menuju tiga air terjun tersebut. Belum puas? Silakan melaju ke Air Terjun Nguralawo.

Menurut keterangan masyarakat lokal, ini bukan sembarang air terjun. Konon, air terjun setinggi 15 meter ini menjadi tempat pemandian para bidadari yang cantik jelita. Lokasinya masih sangat asri dan dikelilingi hutan primer. Untuk mencapai air terjun tersebut, Anda harus menembus hutan Tinabunturang. Tak hanya itu, Anda juga diwajibkan menyeberangi sungai yang penuh bebatuan.

Meskipun demikian, air terjun yang berjarak 35 km dari Tahuna atau 6 km dari Tamako ini menjadi favorit bagi pelancong, khususnya yang mencintai tantangan alam semesta. Sekali dicoba, niscaya Anda pun akan ketanggihan untuk datang lagi di lain waktu. Bagi yang ingin memuaskan diri di pantai, Kepulauan Sangihe menawarkan aneka keindahan tiada tara.

Di Pantai Karang Sarenggihing Lebbo yang terletak di Desa Lebbo, Kecamatan Manganitu, misalnya, terhampar pantai dengan batu-batu khasnya. Tak jauh dari bibir pantai, ada batu karang yang menyembul seolah membentuk pulau baru dengan beberapa vegetasi di atasnya. Batubatu itu tampak kuat dan tegar meski deburan ombak menghantamnya setiap saat.

Jika Anda lebih menyukai pantai berpasir putih, cobalah dekati Pantai Kalasuge. Silakan berjemur di sinar matahari pagi sambil memandang dua pulau di depan. Pantai ini juga memiliki keindahan bawah laut yang menawan. Panorama Tanah Lot Bali juga dihadirkan di Pantai Leppe. Maklum, di pantai tersebut terdapat batu karang yang bentuknya mirip Tanah Lot di Pulau Dewata.

Bedanya, kalau di Tanah Lot dibangun pura, Pantai Leppe didirikan tempat untuk istirahat. Dari bangunan inilah kita dapat memandang Teluk Enemawira dan Kota Petta. Seperti diketahui, di kawasan tersebut banyak beredar barang buatan Filipina. Maklum, sebelah utara dari Kabupaten Sangihe, perairannya berbatasan dengan Filipina.

Sangat Eksotis
Tidak afdol rasanya kalau Anda belum menjelajahi Pantai Maselihe yang hanya berjarak 8 km dari Tahuna. Ketika masih berada di jalan raya Tahuna-Naha, cobalah menepi barang sejenak. Dari atas tebing yang curam itu, Anda bisa melihat Pantai Maselihe yang sangat eksotis. Tebing-tebing curam itu dibalut nyiur melambai laksana hamparan permadani yang menghijau.

Ombak di teluk tersebut tampak tenang. Airnya juga jernih kebirubiruan. Perpaduan antara teluk, air laut yang jernih dan tenang, tebingtebing nan curam, serta aneka vegetasi yang masih asri menjadi mozaik keelokan alam yang tiada duanya. Setelah puas memandangi keelokan alam, lanjutkan perjalanan Anda menuju pantai.

Sewalah perahu layar agar Anda bisa leluasa menelusuri tebing-tebing curam yang telah dibungkus aneka vegetasi hijau. Sesekali Anda juga bisa menguji kepiawaian mengail ikan di teluk tersebut. Dijamin, ikan-ikan itu mudah terpancing karena memang ekosistem terumbu karangnya masih terjaga dengan baik. Menjelang matahari terbenam (sun set), cobalah posisikan diri di Pantai Ria Kolongan Beha.

Pantai landai yang memiliki hamparan pasir putih nan lembut ini sangat cocok untuk menikmati detik-detik matahari menghilang dalam pandangan. Pantai ini menjadi tempat rekreasi bagi warga setempat dan memiliki berbagai fasilitas seperti penginapan, kolam renang, dan rumah makan. Jika perut tak dapat ditahan, segera pesan ikan segar untuk dibakar atau digoreng.

Mak nyus rasanya. Satu lagi yang tak boleh dilewatkan selama Anda berada di Kepulauan Sangihe. Tengoklah rumah peninggalan Belanda yang berlokasi di Desa Pokol, Kecamatan Tamako. "Rumahnya masih tampak asli. Arsitekturnya juga khas dirancang pada masa kolonialisme Belanda," kata Prof Dr Air Poniman, surveyor dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), seperti terungkap dalam buku Sulawesi Utara from Space (2008).

Dari rumah tua tersebut, kata Aris, kita dapat belajar banyak hal mengenai sejarah tempo dulu. Rumah tersebut memberi fakta: meski Sangihe adalah kawasan paling utara Indonesia, sejatinya jauh-jauh hari Belanda telah tertarik menjelajahi kawasan tersebut. Kalau bangsa lain saja terkesima dengan keelokan Tanah Air kita, saatnya bagi generasi penerus untuk selalu mengenal dan memahami seluruh wilayah geografi di Indonesia. Kalau bukan kita, kepada siapa lagi kita berharap? b siswo

Kepulauan Sangihe Mulai Menembus Isolasi
Di beberapa kota kecamatan, kita dengan mudah menemukan berbagai produk yang dipasok dari negara tetangga, Filipina.

Secara geopolitis, Kabupaten Sangihe sangatlah strategis. Bayangkan, ia menjadi teras depan di bagian utara wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berbatasan dengan Filipina. Kedekatan inilah yang membuat masyarakat Sangihe lebih akrab dengan budaya Filipina. Di beberapa kota kecamatan, kita dengan mudah dapat menemukan berbagai produk yang dipasok dari negara tetangga itu.

Sebaliknya, produk-produk asli Indonesia jarang ditemui di sana. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kondisi geografi Kabupaten Sangihe yang relatif lebih jauh dari ibu kota Sulawesi Utara, Manado. Aksesibilitas pun terus dikembangkan untuk menembus isolasi di kawasan tersebut. Puncak Desa Lenganeng adalah faktanya. Di situ dibangun menara pemancar agar penduduk dapat menyaksikan siaran televisi.

Seiring dengan itu, berbagai operator telepon seluler pun gencar membangun menara-menara pemancar telekomunikasi. Komunikasi pun mudah dilakukan kapan dan di mana saja. Dari puncak desa itu, Anda juga dapat memandang eksotisme Gunung Awu di sebelah utara. Berpaling ke barat, terhidang teluk beserta lautan lepasnya.



Sumber : Koran Jakarta

2 komentar: