Jumat, 12 April 2013

Menikmati Perawan Tancep di Yogya

Semerbak wangi dupa tercium begitu menjejakkan kaki di sebuah rumah yang berfungsi pula sebagai tempat makan. Raminten, nama ini mungkin sangat populer di Yogyakarta. Bahkan, ada yang bilang, belum ke Yogyakarta kalau belum sempat mampir ke Raminten.

Menikmati Perawan Tancep di Yogya

House Of Raminten, sesuai dengan arti namanya, ini adalah rumah. Ya, memang di sini adalah tempat tinggal Raminten. Pemiliknya bernama Hamzah. Raminten adalah nama tokoh yang diperankan oleh sang pemilik pada sebuah sitkom di saluran televisi lokal.

Begitu masuk pun tak berbeda dengan rumah pada umumnya. Di tengah halaman yang cukup mungil, ada pendopo yang dijadikan tempat lesehan. Di pendopo lainnya disediakan kursi berbentuk melingkar.


Menurut Bayu Wijayanto dari House Of Raminten, konsep awalnya adalah warung jamu. Mulanya, sang pemilik ingin membudidayakan jamu di kalangan anak muda.

"Jadi jamu dikemas dalam bentuk kafe, biar meminumnya menyenangkan," ujarnya.

Ternyata, jamu buatan Hamzah memiliki banyak pelanggan. Akhirnya ia pun membuat kafe bernuansa tradisional yaitu tetap mengangkat konsep angkringan khas Yogyakarta. Menu utama yang ditawarkan tak berbeda dengan angkringan di kaki lima, yaitu nasi kucing.

Selain nasi kucing, ada juga nasi liwet dan nasi ijo serta banyak menu lain dengan nama-nama yang unik dan cenderung nyeleneh. Sebut saja Susu Suklat Lembut atau yang biasa kita sebut susu cokelat.

Ada pula Perawan Tancep yaitu susu yang dicampur dengan rempah-rempah. Ada juga minuman khas yang hanya ada di Yogyakarta atau daerah sekitarnya, seperti Ponconity atau bisa disebut rootbeer-nya Yogyakarta. Serta Es Carica atau biasa disebut dengan pepaya Dieng.

Begitu pun dengan wadah yang digunakan. Bayu mengakui, wadah untuk makanan berukuran besar-besar. Tak berbeda dengan barang-barang yang terpajang di sekeliling rumah. Banyak barang-barang seni nan antik berasal dari perburuan pemilik ke pasar-pasar tradisional.

Meski telah populer, tetapi Raminten tak mematok harga yang tinggi, bahkan cenderung sangat murah. Untuk seporsi nasi kucing hanya Rp 1.000 dan makanan yang paling mahal diberi harga hanya Rp 25.000.

Sebagai rumah makan, House of Raminten buka 24 jam. Tetapi jangan sangka Anda akan dengan mudah bisa mendapatkan lahan untuk makan. Justru banyak pengunjung yang antre untuk bisa makan di sini, terutama pada malam hari.

"Apalagi kalau Sabtu Minggu antrenya sampai panjang. Pernah pas weekend, liburan, tinggal minuman saja. Tapi tamu di sini tetap saja mau menunggu, padahal kita sudah bilangin maaf (makanannya) sudah habis," ceritanya.

Melestarikan budaya Yogyakarta

Sebagai seorang seniman, Hamzah bertekad melestarikan budaya Jawa bermula dari lebih mengenalkan jamu dan mengangkat angkringan. Kentalnya budaya Jawa juga tercermin dari pelayannya yang menggunakan pakaian ala abdi dalem keraton. Pelayan perempuan mengenakan kemben khas Jawa.

Bayu mengungkapkan, sang pemilik tak ingin membuka rumah makan serupa di kota lain. Kalaupun akan membuka rumah makan baru, lokasinya akan tetap berada di Yogyakarta. Sebab, visi utama dari adanya rumah makan ini adalah untuk menarik wisatawan datang ke Yogyakarta. Dalam arti lain, ia ingin meningkatkan pariwisata Yogyakarta.

"Sebenarnya banyak banget yang ingin buka (di tempat lain), tapi kita nggak akan buka di lain tempat. Tujuannya kan untuk pariwisata Yogyakarta. Kalau misalnya buka di Jakarta atau Bandung sama aja bohong," tutur Bayu. (Tribun)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar